Wednesday, May 10, 2017

Makalah Stres Pada Kejadian Stroke

STRES PADA KEJADIAN STROKE

Oleh :
  • Gabriella Adientya
  • Fitria Handayani
  1. Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran,Universitas Diponegoro 
  2. Staf Pengajar Departemen Keperawatan Dewasa Program studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro



Abstract 

Stroke is the third largest cause of death in the world with a mortality rate of 18 - 37%, stroke risk factors were related to one of them is stress. Treatment of stress need to be prioritized, because the health department in 2008 report about 10% of the entire population of Indonesia is stressed. The purpose of this study was to determine the stress on the incidence of stroke. 

This study used a descriptive correlational research design with cross-sectional approach nonprobability sampling and sampling with purposive sampling techniques and data analysis using univariate tests. The number of samples is 90 respondents stroke and recurrent stroke. Techniques of data collection using questionnaires Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42), with significant <α (0.05) given to patients with no recurrent stroke and recurrent stroke. 

The results of stress analysis of research data on the incidence of stroke, found no recurrent stroke 50 respondents (55.6 %) consisting of 13 respondents (26 %) no stress, 19 respondents (38%) mild stress, 14 respondents (28 %) and the stress is 4 respondents (8 %) of severe stress. 40 respondents experienced recurrent stroke (44.4%) which includes 6 respondents (15 %) no stress, 11 respondents (27 %) mild stress, 14 respondents (35 %) and 9 respondents were stress (22.5%) of severe stress. The conclusion of this study a total of 71 respondents (78.9 %) experienced stress. Suggestions for hospitals, nursing care provided nurses can be directed to controlling the risk factors stress.

Key words: stress, stroke

Abstrak

Stroke merupakan penyebab kematian terbesar ketiga didunia dengan laju mortalitas 18-37 %, stroke terjadi berkaitan dengan faktor resiko salah satunya adalah stres.Penanganan terhadap stres perlu diprioritaskan, karena departemen kesehatan padatahun 2008 mencatat sekitar 10 % dari seluruh penduduk Indonesia mengalami stres.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui stres pada kejadian stroke. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan sampel nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling dan analisa data menggunakan uji univariat. Jumlah sampel adalah 90 responden penderita stroke. 

Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stres Scale 42 (DASS 42), dengan nilai signifikan < α (0.05) diberikan kepada seluruh penderita stroke yang terdiri dari stroke tidak berulang dan stroke berulang. Hasil analisis data penelitian stres pada kejadian stroke, didapatkan 50 responden stroke tidak berulang (55,6 %) yang terdiri dari 13 responden (26 %) tidak stres, 19 responden (38 %) stres ringan, 14 responden (28 %) stres sedang dan 4 responden (8 %) stres berat. 40 responden mengalami stroke berulang (44,4 %) yang meliputi 6 responden (15 %) tidak JURNAL NURSING STUDIES, Volume 1, Nomor 1 Tahun 2012, Halaman 184 stres, 11 responden (27 %) stres ringan, 14 responden (35 %) stres sedang dan 9 responden (22,5 %) stres berat. Kesimpulan dari penelitian ini sebanyak 71 responden (78,9 %) mengalami stres. Saran bagi rumah sakit, asuhan keperawatan yang diberikan perawat dapat diarahkan untuk pengendalian faktor resiko stres.

Kata kunci : stres, stroke

Pendahuluan

Stroke merupakan penyebab kematian terbesar ketiga didunia dengan laju mortalitas 18 - 37 % untuk stroke pertama dan 62 % untuk stroke berulang (Smeltzer, 2002), artinya penderita stroke berulang memiliki resiko kematian dua kali lebih besar dibandingkan penderita stroke. 

Tingginya insiden kematian pada penderita stroke maupun stroke berulang perlu mendapatkan perhatian khusus karena diperkirakan 25 % orang yang sembuh dari stroke pertama akan mendapatkan stroke berulang dalam kurun waktu 1 - 5 tahun (Jacob, 2001). Hal ini dibuktikan dengan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 13 dan 15 Oktober 2011 di RSUP Dr. Kariadi Semarang, didapatkan data sepanjang tahun 2010 terdapat 1009 pasien penderita stroke yang menjalani rawat inap di dua bangsal saraf yaitu unit stroke dan B1 Saraf. 346 pasien diantaranya menderita SH (Stroke Hemoragik) dan sisanya 663 pasien dengan SNH (Stroke Non Hemoragik). 

Tercatat juga sebanyak 229 pasien mengalami stroke berulang, artinya 22,6 % dari keseluruhan penderita stroke yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Kariadi adalah penderita stroke berulang. Stroke terjadi dipicu oleh beberapa faktor resiko, makin banyak faktor resiko yang dimiliki oleh penderita, maka makin tinggi pula kemungkinan terjadinya stroke (Makmur, 2002). Stres merupakan salah satu faktor resiko yang berada pada urutan terbawah sebagai faktor paling berpengaruh terhadap terjadinya stroke (Utami, 2009). Hasil studi dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres merupakan salah satu faktor utama pemicu hipertensi, yang merupakan faktor terbesar penyebab terjadinya serangan stroke (Herke, 2006). 


Fakta inilah yang menjadi salah satu alasan bahwa stres perlu mendapatkan perhatian khusus dari setiap penderita stroke. Tingginya insidensi stres di Indonesia juga merupakan alasan mengapa stres harus diprioritaskan penanganannya sebab pada tahun 2008 tercatat sekitar 10 % dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan mental atau stres. Tingginya tingkat stres ini umumnya diakibatkan oleh tekanan ekonomi atau kemiskinan, 

Departemen statistika menyatakan bahwa 31 juta jiwa atau 13,33 % penduduk Indonesia berada pada garis kemiskinan dengan pengeluaran perbulan dibawah Rp 211.726,00 (Depkes, 2009). Rendahnya pendapatan masyarakat yang hanya cukup untuk menyambung hidup tentu menimbulkan tekanan tersendiri, apalagi bila masyarakat mengalami stroke dengan biaya pengobatan yang relatif mahal. 

Terjadinya serangan stroke berulang pada penderita stroke umumnya dipicu dari spikologis pasien yang merasa menyerah terhadap penyakit dan kondisi tubuhnya yang mengalami kecacatan atau kelumpuhan jangka panjang pasca stroke, sehingga penderita tidak dapat melakukan aktivitas dan berperan seperti sebelumnya. Rendahnya motivasi dan harapan sembuh penderita serta kurangnya dukungan keluarga sangat berpotensi menimbulkan beban dan berujung pada stres (Kumolohadi, 2001).

JURNAL NURSING STUDIES, Volume 1, Nomor 1 Tahun 2012, Halaman 185

Stres akan mengakibatkan bangkitnya serangan stroke apabila terjadi terus – menerus dalam jangka waktu lama dan tidak segera ditanggulangi dengan baik. Realitas inilah yang menjadi alasan utama penulis untuk mengetahui lebih lanjut stres pada kejadian stroke. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui stres pada kejadian stroke tidak berulang dan berulang di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi profesi keperawatan khususnya di RSUP Dr. Kariadi Semarang, masyarakat dan penelitian lain.


Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini didapatkan melalui studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 13 dan 15 oktober 2011, yaitu seluruh pasien stroke yang menjalani rawat inap di dua bangsal saraf, yaitu unit stroke dan B1 saraf RSUP Dr. Kariadi Semarang sepanjang tahun 2010. Besar populasi dalam penelitian ini adalah 1009 pasien, teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling yang melibatkan 90 responden yang ditentukan dengan teknik

purposive sampling.
Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada tanggal 4 Maret - 9 April 2012. Uji validitas pada kuesioner stres DASS 42 sejumlah 14 pertanyaan yang terdapat dalam ítem nomor 1, 6, 8, 11, 12, 14, 18, 22, 27, 29,32, 33, 35 dan 39, dalam penelitian ini melalui dua tahap. Pertama, dengan Content validity yaitu suatu cara untuk mengetahui apakah suatu pertanyaan valid atau tidak yang diujicobakan kepada dua orang ahli dengan hasil beberapa ítem pertanyaan harus diperbaiki sehingga penggunaan kata lebih efektif dan mudah di pahami yaitu ítem pertanyaan nomor 6, 11 dan 13. 

Hasil uji content validity diteruskan dengan melakukan uji construct validity atau uji coba instrumen pada 30 responden (pasien stroke) di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada tanggal 24 Februari - 1 Maret 2012. Hasil kuesioner stres dianalisa menggunakan rumus korelasi Spearman Rank, Setelah instrumen diujicobakan pada taraf signifikansi < α (0.05) sehingga H0 ditolak, maka instrumen dinyatakan valid. Hasil dari uji validitas yaitu 14 pernyataan pada kuesioner stres dinyatakan valid sehingga tidak ada pernyataan yang dibuang. 

Hasil uji reliabilitas untuk kuesioner stres ini mempunyai nilai alpha 0.879, dalam hal ini kuesioner stres DASS 42 dinyatakan reliabel karena nilai alpha lebih besar dari r tabel. Analisis univariat digunakan untuk menganalisa variable - variabel yang ada secara deskriptif dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsinya untuk mengetahui karakteristik dari subjek penelitian. Analisa univariat dalam penelitian ini digunakan untuk mendiskipsikan proporsi
responden yang mengalami stres.

JURNAL NURSING STUDIES, Volume 1, Nomor 1 Tahun 2012, Halaman 186

Hasil Penelitian



Tabel 1 menunjukkan 90 responden penderita stroke dalam penelitian ini terdiri dari 50 responden (55,6 %) penderita stroke tidak berulang dan 40 responden (44,4 %) penderita stroke berulang. Jika kita lihat distribusi frekuensi kejadian stres pada pasien stroke tidak berulang maka didapatkan hasil 13 responden (26 %) tidak mengalami stres, 19 responden (38 %) stres ringan, 14 responden (28 %) stres sedang, 4 responden (8 %) mengalami stres berat dan 0 responden (0 %) sangat berat. Sedangkan 40 responden yang mengalami stroke berulang memiliki tingkat stress yaitu sebesar 6 responden (15 %) tidak stres, 11 responden (27,5 %) stres ringan, 14 responden (35 %) stres sedang, 9 responden (22,5 %) stres berat dan 0 responden (0%) sangat berat.

Pembahasan

Hasil distribusi frekuensi stres pada kejadian stroke di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada 90 responden sepanjang bulan Maret - April menunjukkan bahwa 71 responden (78,9 %) mengalami stres. Stres yang bersifat konstan dan terus menerus mempengaruhi kerja kelenjar adrenal dan tiroid dalam memproduksi hormon adrenalin, tiroksin, dan kortisol sebagai hormon utama stres akan naik jumlahnya dan berpengaruh secara signifikan pada sistem homeostasis. Adrenalin yang bekerja secara sinergis dengan sistem saraf simpatis berpengaruh terhadap kenaikan denyut jantung, dan tekanan darah. Tiroksin selain meningkatkan Basal Metabolism Rate (BMR), juga menaikkan denyut jantung dan frekuensi nafas, peningkatan denyut jantung inilah yang akan memperberat aterosklerosis (Herke, 2006). Ateroklerosis adalah kelainan pembuluh darah yang ditandai dengan penebalan dan hilangnya elastisitas arteri, sehingga menyebabkan berkurangnya fungsi pada jaringan yang disuplai oleh arteri tersebut (Gofir, 2009). 

Hasil ini juga menggambarkan bahwa penderita stroke berulang lebih banyak mengalami stres dibandingkan penderita stroke tidak berulang, dapat dilihat dari responden yang tidak mengalami stres pada penderita stroke berulang lebih kecil dibandingkan stroke tidak berulang, namun responden yang mengalami stres berat pada penderita stroke berulang jauh lebih besar dibandingkan dengan penderita stroke tidak berulang, selebihnya untuk responden yang mengalami stres ringan dan sedang hampir sama jumlahnya baik penderita stroke berulang maupun tidak berulang.

JURNAL NURSING STUDIES, Volume 1, Nomor 1 Tahun 2012, Halaman 187

Enam responden yang tidak mengalami stres pada penderita stroke berulang berusia lebih dari 60 tahun, hal ini dapat berkaitan dengan tingginya pemenuhan kebutuhan spiritual pada lansia. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa spiritual dapat meningkatkan koping, dukungan sosial, optimism, harapan,mengurangi depresi dan kecemasan, serta mendukung perasaan relaksasi (Hamid, 2002).

Tingginya penderita stroke berulang yang mengalami stres dikarenakan penurunan kualitas hidup akibat perburukan kondisi dan kecacatan yang mereka alami. Penurunan produktivitas dan semakin beratnya kecacatan yang dialami penderita diakibatkan oleh perluasan lesi pada area otak sehingga terjadi eksaserbasi atau penurunan secara progresif fungsi organ tubuh yang terkena, apalagi jika stroke yang kedua ini mengenai sisi yang sama dengan stroke pertama atau defisit neurologis yang terdahulu (Makmur, 2002).

Penelitian terkait stres dengan terjadinya stroke mapun stroke berulang sendiri belum ada sebelumnya, namun terdapat penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Herke J.O Sigarlaki yang menyatakan bahwa ada hubungan antara faktor stres dengan terjadinya hipertensi sebangai faktor paling berpengaruh terhadap terjadinya stroke ataupun stroke berulang (Herke, 2006).

Kesimpulan dan Saran

Hasil penelitian stres pada kejadian stroke menunjukkan sebanyak 71 responden (78,9 %) mengalami stres, 30 responden (33,3 %) stres ringan, 28 responden (31,1 %) stres sedang, 13 responden (14,4 %) stres berat dan 0 responden (0%) stres sangat berat.

Perencanaan pengobatan dalam asuhan keperawatan yang diberikan perawat dapat diarahkan untuk pengendalian faktor resiko stres pada penderita stroke, pemberian dukungan moral untuk mempercepat proses penyembuhan serta pemberian penyuluhan tentang upaya prevensi sekunder terjadinya stroke.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh responden yang telah bersedia meluangkan waktu dan berkonstribusi dalam memberikan data bagi penelitian ini, Ibu Sarah Ullya, S.Kp, M.Kes, selaku koordinator mata ajar Riset Keperawatan, Bapak Agus Santoso, S.Kp, M.Kes selaku reviewer I, Ibu Ns. Meira Erawati, S.Kep.,M.Si.Med selaku reviewer II. Tidak lupa jug penulis ucapan terima kasih kepada orangtua, kakak dan adik tercinta yang telah memberikan dukungan kepada penulis selama penulis melakukan penelitian.


EmoticonEmoticon