Monday, February 27, 2017

MAKALAH PENGETAHUAN LINGKUNGAN “BATU BARA”

MAKALAH 
(PENGETAHUAN LINGKUNGAN)
“BATU BARA”






DISUSUN OLEH :

NAMA : M.ARIF ARIFIN RAIS
STAMBUK : 15 021 014 073
JURUSAN : TEHNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
2016



KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah sederhana yang berjudul “Pengolahan Batubara dan Manfaatnya” ini dapat terselesaikan.
Karya Tulis Ilmiah sederhana ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk melengkapi tugas PENGETAHUAN LINGKUNGAN. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari kesalahan, bimbingan dan dukungan dari dosen  dan orangtua saya. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih kepada.
1. Ibu A.Haslina, ST.,MSI 
2. Orang tua yang telah memfasilitasi saya.
3. Teman-teman sejurusan.
4. Serta pihak-pihak yang telah membantu saya dalam pembuat makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam pembuatan Makalah ini belum sempurna, maka dari itu saya menghargai kritik dan saran dari semua pembaca demi kelengkapan dan kesempurnaan Makalah ini. Semoga dengan adanya Makalah ini, kita dapat menambah pengetahuan tentang Batubara serta bermanfaat

 Makassar, 08 Juni 2016

                                                                                                                                           Penulis,



DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………..…
Daftar isi…………………………………………………………………………..

Bab I Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah………………………………………………..
2. Rumusan Masalah………………………………………………………

Bab II Pembahasan

A. Pengertian batu bara……………………………………………………
B. Pembentukan batu bara……………….…………………….…………
C. Klasifikasi batu bara………………………………………………………
D. Kualitas batu bara………………………………………………………...
E. Pemanfaatan batu bara………………………………………………….
F. Gasifikasi batu bara………………………………………………………
G. Kominusi…………………………………………………………………...
H. Sizing………………………………………………………………………
I. Pencucian batu bara……………………………………………………..
J. Manfaat batu bara bagi kehidupan manusia…………………………

Bab III Pengolahan

1. Pengolahan batu bara……………………………………………………
2. Pengangkutan batu bara…………………………………………………

Bab IV Penutup

A. Kesimpulan………………………………………………………………..
B. Saran……………………………………………………………………….
Daftar Pustaka…………………………………………………………………….

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah
Batubara merupakan sumber daya alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang telah mati dan mengalami proses biokimia dan geokimia selama puluhan tahun. Di Indonesia cadangan batubara masih sangat berlimpah dan memiliki potensi untuk dijadikan alternatif bahan bakar. Akan tetapi, banyak orang yang tidak tahu cara pengolahan batubara yang benar, jenis-jenis tumbuhan yang bisa dibuat batubara, dan manfaatnya bagi manusia. Oleh karena itu, saya membuat Makalah “Batu bara”.

2. Rumusan Masalah
Dikarenakan banyaknya permasalahn yang ada maka, dalam pembahasan ini saya ingin membahas :
Apa itu batu bara ?
Bagaimana proses pengolahan batubara ?
Apa manfaat batubara ?
Tujuan
Tujuan dari penyusunan Makalah yang berjudul “Batu bara”. saya harap pembaca dapat menambah pengetahuan tentang “Batu Bara 

3. Manfaat
Dari pembahasan ini diharapakan :
Agar mengetahui cara-cara pengolahan batubara yang benar.
Mengerti jenis-jenis tumbuhan yang bisa dibuat batubara.
Memahami manfaat batubara bagi manusia.
Memahami pengertian batubara.
Agar batubara dapat digunakan secara optimal.

4. Metode
Membaca Buku.
Mengumpulkan Data dari Internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Batu Bara
Batubara adalah bahan bakar fosil. Batubara dapat terbakar, terbentuk dari endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batubara.

B. Pembentukan Batubara
Komposisi batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. Hal ini dapat dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami coalification. Pada dasarnya pembentukkan batubara sama dengan cara manusia membuat arang dari kayu, perbedaannya, arang kayu dapat dibuat sebagai hasil rekayasa dan inovasi manusia, selama jangka waktu yang pendek, sedang batubara terbentuk oleh proses alam, selama jangka waktu ratusan hingga ribuan tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam, maka banyak parameter yang berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin tinggi intensitas parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu batubara yang terbentuk.

Ada dua teori yang menjelaskan terbentuknya batubara, yaitu teori insitu dan teori drift. Teori insitu menjelaskan, tempat dimana batubara terbentuk sama dengan tempat terjadinya coalification dan sama pula dengan tempat dimana tumbuhan tersebut berkembang.
Teori drift menjelaskan, bahwa endapan batubara yang terdapat pada cekungan sedimen berasal dari tempat lain. Bahan pembentuk batubara mengalami proses transportasi, sortasi dan terakumulasi pada suatu cekungan sedimen. Perbedaan kualitas batubara dapat diketahui melalui stratigrafi lapisan. Hal ini mudah dimengerti karena selama terjadi proses transportasi yang berkaitan dengan kekuatan air, air yang besar akan menghanyutkan pohon yang besar, sedangkan saat arus air mengecil akan menghanyutkan bagian pohon yang lebih kecil (ranting dan daun). Penyebaran batubara dengan teori drift memungkinkan, tergantung dari luasnya cekungan sendimentasi.
Pada proses pembentukan batubara atau coalification terjadi proses kimia dan fisika, yang kemudian akan mengubah bahan dasar dari batubara yaitu selulosa menjadi lignit, subbitumina, bitumina atau antrasit. Reaksi pembentukkannya dapat diperlihatkan sebagai berikut:

C. Klasifikasi Batubara
Menurut American Society for Testing Material (ASTM), secara umum batubara digolongkan menjadi 4 berdasarkan kandungan unsur C dan H2O yaitu: anthracite, bituminous coal, sub bituminous coal, lignite dan peat (gambut).


a. Anthracite
Warna hitam, sangat mengkilat, kompak, kandungan karbon sangat tinggi, kandungan airnya sedikit, kandungan abu sangat sedikit, kandungan sulfur sangat sedikit.

b. Bituminous/subbituminous coal
Warna hitam mengkilat, kurang kompak, kandungan karbon relative tinggi, nilai kalor tinggi, kandungan air sedikit, kandungan abu sedikit, kandungan sulfur sedikit.

c. Lignite
Warna hitam, sangat rapuh, kandungan karbon sedikit, nilai kalor rendah, kandungan air tinggi, kandungan abu banyak, kandungan sulfur banyak.

D. Kualitas Batubara
Batubara yang diperoleh dari hasil penambangan mengandung bahan pengotor (impurities). Hal ini bisa terjadi ketika proses coalification ataupun pada proses penambangan yang dalam hal ini menggunakan alat-alat berat yang selalu bergelimang dengan tanah. Ada dua jenis pengotor yaitu:

a. Inherent impurities
Merupakan pengotor bawaan yang terdapat dalam batubara. Batubara yang sudah dibakar memberikan sisa abu. Pengotor bawaan ini terjadi bersama-sama pada proses pembentukan batubara. Pengotor tersebut dapat berupa gybsum (CaSO42H2O), anhidrit (CaSO4), pirit (FeS2), silica (SiO2). Pengotor ini tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi dapat dikurangi dengan melakukan pembersihan.

b. Eksternal impurities
Merupakan pengotor yang berasal dari uar, timbul pada saat proses penambangan antara lain terbawanya tanah yang berasal dari lapisan penutup.Sebagai bahan baku pembangkit energi yang dimanfaatkan industri, mutu batubara mempunyai peranan sangat penting dalam memilih peralatan yang akan dipergunakan dan pemeliharaan alat. Dalam menentukan kualitas batubara perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain:

a. Heating Value (HV) (calorific value/Nilai kalori)
Banyaknya jumlah kalori yang dihasilkan oleh batubara tiap satuan berat dinyatakan dalam kkal/kg. semakin tingi HV, makin lambat jalannya batubara yang diumpankan sebagai bahan bakar setiap jamnya, sehingga kecepatan umpan batubara perlu diperhatikan. Hal ini perlu diperhatikan agar panas yang ditimbulkan tidak melebihi panas yang diperlukan dalam proses industri.

b. Moisture Content (kandungan lengas).

c. Lengas batubara ditentukan oleh jumlah kandungan air yang terdapat dalam batubara. Kandungan air dalam batubara dapat berbentuk air internal (air senyawa/unsur), yaitu air yang terikat secara kimiawi.
Jenis air ini sulit dihilangkan tetapi dapat dikurangi dengan cara memperkecil ukuran butir batubara. Jenis air yang kedua adalah air eksternal, yaitu air yang menempel pada permukaan butir batubara. Batubara mempunyai sifat hidrofobik yaitu ketika batubara dikeringkan, maka batubara tersebut sulit menyerap air, sehingga tidak akan menambah jumlah air internal.

d. Ash content (kandungan abu)
Komposisi batubara bersifat heterogen, terdiri dari unsur organik dan senyawa anorgani, yang merupakan hasil rombakan batuan yang ada di sekitarnya, bercampur selama proses transportasi, sedimentasi dan proses pembatubaraan. Abu hasil dari pembakaran batubara ini, yang dikenal sebagai ash content. Abu ini merupakan kumpulan dari bahan-bahan pembentuk batubara yang tidak dapat terbaka atau yang dioksidasi oleh oksigen. Bahan sisa dalam bentuk padatan ini antara lain senyawa SiO2, Al2O3, TiO3, Mn3O4, CaO, Fe2O3, MgO, K2O, Na2O, P2O, SO3, dan oksida unsur lain.

e. Sulfur Content (Kandungan Sulfur)
Belerang yang terdapat dalam batubara dibedakan menjadi 2 yaitu dalam bentuk senyawa organik dan anorganik. Beleranga dalam bentuk anorganik dapat dijumpai dalam bentuk pirit (FeS2), markasit (FeS2), atau dalam bentuk sulfat. Mineral pirit dan makasit sangat umum terbentuk pada kondisi sedimentasi rawa (reduktif). Belerang organik terbentuk selama terjadinya proses coalification. Adanya kandungan sulfur, baik dalam bentuk organik maupun anorganik di atmosfer dipicu oleh keberadaan air hujan, mengakibatkan terbentuk air asam. Air asam ini dapat merusak bangunan, tumbuhan dan biota lainnya.

E. Pemanfaatan Batubara
Batubara merupakan sumber energi dari bahan alam yang tidak akan membusuk, tidak mudah terurai berbentuk padat. Oleh karenanya rekayasa pemanfaatan batubara ke bentuk lain perlu dilakukan.
Pemanfataan yang diketahui biasanya adalah sebagai sumber energi bagi Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara, sebagai bahan bakar rumah tangga (pengganti minyak tanah) biasanya dibuat briket batubara, sebagai bahan bakar industri kecil; misalnya industri genteng/bata, industri keramik. Abu dari batubara juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar sintesis zeolit, bahan baku semen, penyetabil tanah yang lembek. Penyusun beton untuk jalan dan bendungan, penimbun lahan bekas pertambangan,; recovery magnetit, cenosphere, dan karbon; bahan baku keramik, gelas, batu bata, dan refraktori; bahan penggosok (polisher); filler aspal, plastik, dan kertas; pengganti dan bahan baku semen; aditif dalam pengolahan limbah (waste stabilization).

Ada beberapa faktor yang menadi alasan batubara digunakan sebagai sumber energi alternatif, yaitu:
1. Cadangan batubara sangat banyak dan tersebar luas. Diperkirakan terdapat lebih dari 984 milyar ton cadangan batubara terbukti (proven coal reserves) di seluruh dunia yang tersebar di lebih dari 70 negara.
2. Negara-negara maju dan negara-negara berkembang terkemuka memiliki banyak cadangan batubara.
3. Batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan yang stabil.
4. Harga batubara yang murah dibandingkan dengan minyak dan gas.
5. Batubara aman untuk ditransportasikan dan disimpan.
6. Batubara dapat ditumpuk di sekitar tambang, pembangkit listrik, atau lokasi sementara.
7. Teknologi pembangkit listrik tenaga uap batubara sudah teruji dan handal.
8. Kualitas batubara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca maupun hujan.
9. Pengaruh pemanfaatan batubara terhadap perubahan lingkungan sudah dipahami dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih (clean coal technology) dapat dikembangkan dan diaplikasikan.

F. Gasifikasi Batubara
Gasifikasi batubara adalah sebuah proses untuk mengubah batubara padat menjadi gas batubara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan (CH4), dan nitrogen (N2) akhirnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Hanya menggunakan udara dan uap air sebagai reacting gas kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.

Untuk melangsungkan gasifikasi diperlukan suatu suatu reaktor. Reaktor tersebut dikenal dengan nama gasifier. Ketika gasifikasi dilangsungkan, terjadi kontak antara bahan bakar dengan medium penggasifikasi di dalam gasifier. Kontak antara bahan bakar dengan medium tersebut menentukan jenis gasifier yang digunakan. Secara umum pengontakan bahan bakar dengan medium penggasifikasinya pada gasifier dibagi menjadi tiga jenis, yaitu entrained bed, fluidized bed, dan fixed/moving bed. Oleh :Jefri Hansen Siahaan

G. Kominusi
Kominusi adalah proses memperkecil ukuran batubara. Digunakan alat crusher dan grinder. Kominusi dibagi menjadi tiga tahap yaitu, peremuk pertama, peremuk kedua dan peremuk halus. Namun, dibatubara hanya menggunakan peremuk pertama dan kedua.

1. Peremuk Pertama
Merupakan tahap penghancuran yang pertama. Pada tahap ini batubara masih berupa bongkah-bongkahan besar yang berukuran 84 x 60 inci, dan pada proses ini batubara menjadi berukur 4 inci. Berikut merupakan alat-alat yang digunakan dalam proses peremukan pertama:

a. Peremuk Rahang
Memiliki dua jaw, yang satu dapat digerakkan dan yang lain hanya diam. Berdasarkan porosnya, peremuk rahang dibagi dalam dua macam :

1) Blake jaw crusher, dengan poros diatas.
2) Dodge jaw crusher, dengan poros dibawah.

Perbandingan dodge dan blake adlah sebagai berikut :.
1) Ukuran produk pada blake lebih heterogen, sedangkan pada dodge relative lebih seragam.
2) Pada blake porosnya diatas sehingga gaya yang terbessar mengenai partikel yang berukuran kecil. Pada dodge porosnya dibawah sehingga gaya yang terbesar mengenai partikel yang terbesar sehingga gaya mekanis pada dodge jaw lebih besar bila dibandingkan dengan blake jaw.
3) Kapasitas dodge jaw lebih kecil daripada blake jaw pada ukuran yang sama.
4) Pada dodge jaw sering terjadi penyumbatan atau kemacetan.

b. Gyratory crusher
Mempunyai kapasitas yang lebih besar jika dibandingkan dengan peremuk rahang. Gerakan gyratory crusher berputar dan bergoyang sehinggga proses penghancuran berjalan terus-menerus tanpa selang waktu. Berbeda dengan peremuk rahang yang proses penghancurannya tidak kontinu, yaitu pada waktu swing jaw bergerak ke belakang material-material yang ada tidak mengalami penggerusan. Kapasitas gyratory crusher tergantung pada hal berikut :

1) Sifat alamiah mineral yang dihancurkan, seperti     kekerasan, keliatan, dan kerapuhan.
2) Permukaan cekung dan crushing head terhadap umpan akan memengaruhi gesekan       antara material dengan bagian pemecah.
3) Kandungan air, setting, putaran, dan gape.

Perbedaan antara gyratory crusher dengan peremuk rahang adalah sebagai berikut :

1) Pemasukan umpan pada peremuk rahang tidak kontinu, sedangkan pada gyratory pemasukan terjadi secara kontinu.
2) Gyratory alatnya lebih besar dan bagian-bagiannya tidak mudah dilepas.
3) Kapasitas gyratory lebih besar daripada peremuk rahang karena pemasukan dapat dilakukan secara kontinu dan proses penghancuran terjadi di berbagai tempat.
4) Proses pemecahan pada peremuk rahang lebih banyak tekanan, tapi pada gyratory gaya geseknya lebih besar walaupun ada gaya tekannya. Pada gyratory jika perputarannya semakin cepat maka produk yang dihasilkan semakin kecil.

2. Peremuk Kedua
Peremuk kedua adalah tahap penghancuran kelanjutan dari peremuk pertama, ukuran umpan lebih kecil dari 6 inci dan produknya berukuran kurang lebih 0,5 inci. Berikut ini merupakan alat-alat yang digunakan dalam proses peremukan kedua :
a. Cone Crusher
Merupakan alat peremuk kedua yang penggunaanya tergolong ekonomis. Cone crusher hampir sama dengan gyratory crusher, perbedaanya terletak pada hal berikut :
1) Pada crushing surface terluar cone crusher bekerja sedemikian rupa sehingga luas lubang pengeluaran dapat bertambah.
2) Pada crushing surface cone crusher bagian atasnya dapat diangkat sehingga material yang tidak dapat dihancurkan dapat dikeluarkan.
b. Hammer Crusher
 Hammer crusher digunakan dalam peremukan kedua untuk memperkecil produk dari peremuk pertama denga ukuran batubara yang diperbolehkan 1 inci. Alat ini merupakan satu-satunya alat yang berbeda cara penghancurannya dibandingkan alat pada peremuk kedua lainnya.

c. Roll Crusher
  Alat ini terdiri atas dua buah silinder baja dan masing-masing dihubungkan pada poros sendiri-sendiri. Silinder yang berputar hanya satu, sedangkan yang lain diam, tapi karena adanya material yang masuk dan pengaruh silinder lainnya maka silinder yang lain ikut berputar pula. Putaran masing-masing silinder berlawanan arah sehingga material yang ada diatas roll akan terjepit dan hancur.


H. Sizing
Sizing merupakan proses pengelompokan material, terbagi dalam dua cara berikut :

1. Screening
Screening adalah proses pengelompokan material berdasarkan ukuran lubang ayakan sehingga ukurannya seragam. Tujuan dilakukannya screening adalah sebagi berikut :

a. Mempertinggi kapasitas unit operasi lainnya.
b. Mencegah terjadinya over crushing atau over grinding.
c. Memenuhi permintaan pasar.
Faktor-faktor yang memengaruhi kecepatan material untuk menerobos lubang ayakan adalah sebagai berikut :

a. Ukuran Bukaan Ayakan

Semakin besar garis tengah lubang bukaan akan semakin banyak partikel material yang lolos.
a. Ukuran Relatif Partikel
Material yang mempunyai garis tengah sama dengan panjangnya akan memiliki kecepatan dan kesempatan masuk yang berbeda bila posisinya berbeda, yaitu satu melintang dan yang lain membujur.
b. Pantulan dari Material
Pada waktu material jatuh ke screen maka material akan membentur kisi-kisi screen sehingga akan terpental ke atas dan jatuh pada posisi yang tidak teratur.
c. Kandungan Air
Kandungan air yang banyak akan sangat membantu tapi bila hanya sedikit akan menyumbat screen.

2. Classifying
 Classifying adalah proses pengelompokan material berdasarkan pada kecepatan jatuh material dalam suatu media (air atau udara), densitas, volume, dan bentuk material. Ukuran butir yang dipisahkan secara classifying berukuran lebih kecil dari 20 mesh, sedangkan cara screening untuk ukuran lebih besar dari 20 mesh. Kecepatan pengendapan tergantung pada ukuran, bentuk, dan berat jenis partikel. Dalam classifying, partikel kasar, berat, dan berbentuk bulat akan mengendap lebih cepat daripada partikel yang ringan dan berbentuk tidak teratur. Ukuran butir yang dapat dipisahkan 20-300 mesh. Berdasarkan media pemisahnya, classifying dibagi menjadi berikut :

a. Sorting classifier menggunakan cairan kental.
Pada sorting classifier, kondisi pengendapan adalah hindered setting, yaitu pengendapan yang mengalami hambatan meskipun dalam media yang kental, mineral yang mempunyai berat jenis yang berat lebih dahulu mengendap bila dibandingkan dengan mineral yang mempunyai berat jenis ringan.

b. Sizing classifier menggunakan cairan encer.
Dalam sizing classifier diperlukan penambahan air selain air yang telah ada dalam material yang akan diclassifier. Sizing classifier menggunakan kondisi free settling, yaitu pengendapan material secara individu yang mengendap secara langsung.

I. Pencucian Batubara
Pencucian batubara adalah suatu usaha untuk mengolah atau mencuci batubara kotor berasal dari pertambangan menjadi batubara bersih agar dapat memenuhi persyaratan konsumen, misalnya batubara untuk kokas atau bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap, ketel uap, industri semen, dan industri-industri lainnya. Proses pencucian batubara bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan sejumlah unsur mineral pengotor, antara lain abu dan belerang dalam bentuk spirit yang ada dalam batubara kotor hasil penambangan. Mineral pengotor dalam beberapa hal dapat menimbulkan persoalan ketika prose pembakaran, terutama menyangkut masalah lingkungan. Pada batubara yang telah dilakukan pencucian tentu akan terdapat nilai tambah. Berikut beberapa keuntungan yang didapat dari proses pencucian batubara :

1) Mengurangi ongkos per unit energi yang diangkut.
2) Mengurangi ongkos angkut hasil buangan.
3) Meningkatkan kemampuan angkut batubara.
4) Meningkatkan kalori batubara sehingga efisien pembakaran dalam suatu tanur dapat meningkat pula.
5) Mengurangi pembentukan slag dalam tanur yang berarti mengurangi waktu yang tidak efektif dalam suatu tanur.

Mekanisme yang digunakan dalam penambangan batubara mengakibatkan produk batubara mentah (raw coal) dari tambang banyak mengandung kotoran sehingga peranan pencucian batubara menjadi lebih penting. Selain itu, dengan meningkatnya peranan kesadaran terhadap lingkungan dalam industri pembangkit listrik, teknologi pengontrolan belerang pun semakin penting sehingga gas hasil pembakaran akan berkurang dengan adanya pencucian.
Pencucian batubara erat kaitannya dengan proses penambangannya. Batubara ketika penambangannya dilakukan ,secara bersih, kemungkinan tidak dilakukan pencucian. Tetapi, apabila hasil penambangan bercampur anatara batubara dengan kotoran maka harus dilakukan proses pencucian.

Cara-cara menghilangkan belerang dalam industri pencucian batubara sangat berbeda antara satu dengan yang lain, baik dari segi biaya maupun hasil yang didapatkan. Alat-alat yang biasa digunakan adalah ayakan, meja goyang, mesin jig, pemisahan media berat, dan flotasi. Macam-macam proses pencucian batubara secara fisik adalah sebagai berikut :

1. Jinggin
 Adanya pulsasi air menyebabkan stratifikasi batubara berdasarkan berat jenis dari lapisan atas ke lapisan bawah sehingga batubara bersih akan berada pada bagian atas. Ukuran batubara yang dapat dikerjakan menggunakan alat mesin jig berkisar antara 3,4-7,6 mm.

2. Meja Goyang (Shaking Table).
Pemisahan batubara halus karena adanya goyangan pada meja pemisah. Pada proses ini, partikel yang ringan akan dipisahkan kea rah bawah, sedangkan partikel berat akan  dialirkan kea rah samping. Ukuran yang dapat dipisahkan adalah 0,15-6,4 mm.

3. Media Berat
Pemisahan batubara disebabkan adanya media berat yang mendekati berat jenis pemisah. Batubara yang mempunyai berat jenis kecil akan mengapung, kemudian dipisahkan. Keuntungan cara ini adalah dapat memisahkan dengan baik pada batas-batas berat jenis yang umumnya digunakan, selain itu dapat dikerjakan pada batas ukuran yang besar jangkaunnya. Ukuran yang dapat dikerjakan adalah 0,59-20 mm.

4. Hidrosiklon
Pemisahan dilakukan pada alat yang berbentuk mirip kerucut. Material yang mempunyai berat jenis besar maupun kecil dipengaruhi pleh pergerakkan aliran ke atas dan adanya gaya sentrifugal. Hidrosiklon biasa digunakan di Amerika untuk pemisahan batubara berukuran lebih kecil dari 64 mm

5. Humphrey Spiral
Pemisahan dilakukan pada alat yang berbentuk spiral, lumpur (pulp) mengalir dari atas ke bawah sehingga akan terjadi stratifikasi sepanjang spiral. Pemisahan dapat dilakukan menggunakan pembagi, yaitu menjadi dua atau tiga produk. Biasanya dilakukan pada batubara berukuran lebih kecil dari 3 mm.

6. Washer
Batubara kotor dialirkan dalam suatu aliran air dalam tempat cuci berupa talangan (launcher). Partikel – partikel berat akan mengendap pada bagian bawah, sedangkan batubara pada lapisan atas akan terbawa aliran air. Alat ini biasanya digunakan untuk batubara dengan ukuran berkisar 7,5 mm – 4 mesh.

7. Flotasi
Pencucian batubara menggunakan bantuan collector, frother, modifier, dan adanya gelembung udara menyebabkan batubara dapat dipisahkan dari pengotornya. Pencucian dengan cara ini dapat pula mengurangi jumlah pirit, selain itu batubara yang berukuran halus pun dapat diambil.
Terdapat pula pencucian secara kimia. Dibandingkan dengan pencucian batubara secara fisik maka proses secara kimia belum berkembang. Pada saat ini, pabrik pencucian batubara hanya memafaatkan sisa-sisa pemisahan secara fisik saja, yaitu memisahkan batubara dari pengotor atau abu, tetapi tidak menghilangi pirit dalam batubaranya.

J. Manfaat batubara bagi kehidupan manusia.
Ada satu produk dari batu bara yang besar manfaatnya bagi keberlangsungan ketersediaan energi di Indonesia, yaitu briket batu bara. Briket batu bara merupakan bahan bakar yang telah mengalami proses pemampatan dan memiliki daya tekan tertentu, berbentuk dan memiliki ukuran sesuai dengan kebutuhan, sehingga mudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Manfaat batu bara dalam bentuk briket adalah sebagai beikut:
a) Cadangan minyak bumi sebagai bahan bakar yang semakin menipis membuat kita harus “sedia payung sebelum hujan” dengan cara mencari sumber energi lain untuk dimanfaatkan, yakni salah satunya batu bara.
b) Kemudahan teknologi sederhana yang memungkinkan batu bara bisa dibentuk menjadi briket untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif.
c) Di dalam bumi Indonesia banyak tersedia batu bara yang bisa dijadikan  briket
d) Selain bisa menggantikan bahan bakar minyak, juga bisa menggantikan peranan kayu bakar untuk memasak.

Manfaat batubara bagi kebutuhan produksi
a) bahan bakar pembangkit  listrik
b) produksi besi dan baja
c) bahan bakar pembuatan semen
d) bahan bakar cair.
e) Penggunaan batu bara yang penting lainnya mencakup pusat pengolahan alumina, pabrik kertas, dan industri kimia serta farmasi. Beberapa produk kimia dapat diproduksi dari hasil-hasil sampingan batubara. Ter batu bara yang dimurnikan digunakan dalam pembuatan bahan kimia seperti minyak kreosot, naftalen, fenol dan benzene. Gas amoniak yang diambil dari tungku kokas digunakan untuk membuat garam amoniak, asam nitrat dan pupuk tanaman. Ribuan produk yang berbeda memiliki komponen batu bara atau hasil sampingan batu bara:sabun, aspirin, zat pelarut, pewarna, plastik dan fiber, seperti rayon dan nylon.
f) Batu bara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan produk-produk tertentu:

Batubara masih menjadi produk primadona hingga ekspansi tambang terus dilakukan, termasuk pengembangan listrik batubara, . Foto: Hendar Kala banyak negara sudah mulai mengurangi penggunaan batu bara sebagai sumber energi, pemerintah Indonesia,  justru makin masif merencanakan pertambangan maupun pembangunan PLTU batubara. Padahal, penggunaan batu bara sangat merusak lingkungan dan manusia.
Lauri Myllyvirta, aktivis Greenpeace International mengatakan, penggunaan batubara menyebabkan 60 ribu orang Indonesia meninggal tiap tahun. “Ini karena polusi batubara menyebabkan kanker paru, stroke, penyakit pernafasan dan persoalan lain terkait pencemaran udara,” katanya di Jakarta, Minggu ( 23/2/14).
Lelaki yang fokus pada kajian pencemaran udara itu mengatakan, membangun puluhan pembangkit batubara dan pertambangannya mengakibatkan jutaan rakyat Indonesia merasakan dampak buruk pencemaran udara beracun. “Polusi batubara sangat berbahaya bagi manusia. Batubara mengeluarkan partikel PM 2,5 yang sangat mudah masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirup. Ini menyebabkan risiko kanker lebih tinggi,” ujar Myllyvirta.
Indonesia tidak mempunyai aturan khusus menangani pencemaran udara akibat pertambangan. Begitupun standardisasi PM 2,5. Indonesia juga tidak pernah memantau bahaya polusi PLTU. “Indonesia membangun banyak PLTU juga banyak eksplorasi tambang batubara. Orang di dekat PLTU maupun lokasi tambang sangat dirugikan. Mereka akan menghirup udara dari batubara itu.”

Saat ini, beberapa negara justru berkomitmen mengurangi penggunaan batubara. China, misal,  menargetkan pengurangan penggunaan batubara mulai 2017 sebesar 30%. Mereka mulai mengembangkan sumber energi terbarukan karena pencemaran udara sangat parah pernah melanda China tahun 2008.

“Dua tahun terakhir China berusaha mengembangkan energi angin, solar panel dan berbagai sumber energi terbarukan lain. Indonesia, sangat tergantung batubara sebagai komoditas utama ekspor. Saatnya berpindah menggunakan energi terbarukan.”
Bruce Buckheit, mantan Badan Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (EPA US), berpendapat senada. Dia mengatakan, tahun 1960-an, udara di AS begitu kotor karena banyak pembangkit listrik tenaga batubara tak menggunakan teknologi untuk mengurangi pencemaran udara seperti scrubber.

Keadaan ini, mendorong pemerintah AS mengeluarkan peraturan kualitas udara bersih tahun 1970 hingga menyebabkan ratusan perusahaan batubara ditindak hukum bahkan berhenti beroperasi.

“Amerika dan Inggris pernah mengalami pencemaran udara sangat buruk akibat pembangkit listrik batubara. Hal serupa terjadi di China baru-baru ini.”
Kini Buckheit aktif dalam gerakan penegakan aturan udara bersih (clean air act). Menurut dia, PM 2,5 dalam batubara sangat berbahaya. Walaupun ada alat untuk mengurangi di udara, tapi tak menjadi jawaban. Ia juga mencemari air. “PM 2,5, merkuri dari penggunaan batubara jika mencemari air akan sangat merugikan masyarakat. Peraturan di Indonesia mengenai emisi partikel halus seperti PM 2,5 sangat lemah.”


Tambang barubara, menciptakan kerusakan lingkungan, kolam-kolam terbuka bekas galian juga membahayakan keselamatan manusia. Belum lagi, polusi udara dan air yang bisa menyebabkan beragam penyakit bagi manusia. Foto: Walhi Kalteng

Sementara itu, Donna Lisenby,  Koordinator Kampanye batubara Global Waterkeeper Alliance, mengatakan, pencemaran tambang batubara terjadi mulai kegiatan penambangan, pengangkutan hingga pembangunan PLTU. “Pencemaran batubara berakibat langsung pada pencemaran air. Limbah yang ditahan tidak dibuang ke udara, akan terbuang ke tanah atau air. Ini mengakibatkan pencemaran di hulu dan hilir sungai,” katanya.

Pencemaran di tanah dan air akan berakibat buruk bagi pertanian. Lahan gambut yang berfungsi sebagai penjernih air bisa rusak. Tak pelak, ketahanan pangan bisa hancur.
Bahkan, katanya, dari 26 persen bayi lahir di sekitar tambang batubara berpotensi cacat. “Di Indonesia belum ada penelitian mengenai ini.  Bentuk ikan dan katak di sungai sudah tercemar limbah batubara juga mengalami perubahan.”

Aktivis 350.org dari Renuka Saroha,  menjabarkan kondisi di India. Menurut dia, penggunaan batubara pada pembangkit listrik di India menyebabkan persoalan sangat serius bagi lingkungan hidup.  Batubara awal dari kematian manusia, lingkungan dan kebudayaan. “Budaya rusak ketika eksplorasi tambang batubara dilakukan karena memaksa orang yang tinggal di lokasi itu pindah.”

India, mengimpor batubara dari Indonesia dalam jumlah sangat besar bukan untuk ketersediaan listrik, atau pembangunan mensejahterakan rakyat. Namun, hanya menguntungkan politisi dan pengusaha, sedang masyarakat malah rugi.
Dia mencontohkan, PLTU Tata Mudra,  yang menghasilkan listrik 4.000 megawatt. Batubara diimpor dari Indonesia dengan pengeluarkan  US$4,140 juta, dan kerugian US$112 juta per tahun. “Ini tidak memberikan keuntungan sama sekali. Sudah saatnya pemerintah mendorong penggunaan energi terbarukan,” kata Saroha.

Ki Bagus Hadi Kusuma dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) pun angkat bicara. Dia mengatakan, Indonesia harus segera menghentikan ekspor batubara. Sebab, dampak lingkungan dan sosial jauh lebih tinggi dibandingkan keuntungan.

Menurut dia, produksi 400 ton per tahun harus dikurangi secara drastis jika ingin menyelamatkan pertanian, sungai dan hutan juga kesehatan warga di sekitar tambang. “Sebanyak 44 persen dari daratan Indonesia dikapling untuk pertambangan atau migas.”
Perizinan batubara, katanya,  terbilang sangat mudah. Keadaan ini, terlihat dari statistik izin eksplorasi batubara sebanyak 40,21 persen dari keseluruhan izin tambang di Indonesia.
Batubara konsumsi dalam negeri hanya berkisar 20-25 persen. Mayoritas, 70-77 persen itu diekspor. “Jika pemerintah masih memaksakan memprioritaskan batubara sebagai ekspor, dalam 10-20 tahun mendatang perekonomian Indonesia kolaps,” ucap Bagus.

Hingga 2020,  pemerintah Indonesia menargetkan penggunaan batubara pembangkit listrik hingga 64%. Sedang energi terbarukan sangat kecil. Gas 17 persen, gheotermal 12 persen, minyak satu persen dan hydro enam persen.
Pius Ginting, Manajer Kampanye Energi dan Tambang Walhi Nasional mengatakan, rencana investasi besar-besaran rel kereta api di Kalimantan dan Sumatera,  akan bertentangan dengan target penurunan emisi pemerintah. Ia juga mengancam pencapaian target penggunaan energi terbarukan sebanyak 25 persen tahun 2025. “Pemerintah harus menghentikan PLTU batubara besar di Jawa-Sumatera.”



BAB III
PENGOLAHAN
1. Pengolahan Batubara
Batubara yang langsung diambil dari bawah tanah,disebut batubara tertambang run-of-mine (ROM), seringkali memiliki kandungan campuran yang tidak diinginkan seperti batu dan lumpur dan berbentuk pecahan dengan berbagai ukuran. Namun demikian pengguna batubara membutuhkan batubara dengan mutu yang konsisten. Pengolahan batubara – juga disebut pencucian batubara (“coal benification” atau “coal washing”) mengarah pada penanganan batubara tertambang (ROM Coal) untuk menjamin mutu yang konsisten dan kesesuaian dengan kebutuhan pengguna akhir tertentu.

Pengolahan tersebut tergantung pada kandungan batubara dan tujuan penggunaannya. Batubara tersebut mungkin hanya memerlukan pemecahan sederhana atau mungkin memerlukan proses pengolahan yang kompleks untuk mengurangi kandungan campuran. Untuk menghilangkan kandungan campuran, batubara terambang mentah dipecahkan dan kemudian dipisahkan ke dalam pecahan dalam berbagai ukuran. Pecahan-pecahan yang lebih besar biasanya diolah dengan menggunakan metode ‘pemisahan media padatan’. Dalam proses demikian, batubara dipisahkan dari kandungan campuran lainnya dengan diapungkan dalam suatu tangki berisi cairan dengan gravitasi tertentu, biasanya suatu bahan berbentuk mangnetit tanah halus. Setelah batubara menjadi ringan, batubara tersebut akan mengapung dan dapat dipisahkan, sementara batuan dan kandungan campuran lainnya yang lebih berat akan tenggelam dan dibuang sebagai limbah.

Pecahan yang lebih kecil diolah dengan melakukan sejumlah cara, biasanya berdasarkan perbedaan kepadatannya seperti dalam mesin sentrifugal. Mesin sentrifugal adalah mesin yang memutar suatu wadah dengan sangat cepat, sehingga memisahkan benda padat dan benda cair yang berada di dalam wadah tersebut. Metode alternatif menggunakan kandungan permukaan yang berbeda dari batubara dan limbah. Dalam ‘pengapungan berbuih’, partikel-partikel batubara dipisahkan dalam buih yang dihasilkan oleh udara yang ditiupkan ke dalam rendaman air yang mengandung reagen kimia. Buih-buih tersebut akan menarik batubara tapi tidak menarik limbah dan kemudian buih-buih tersebut dibuang untuk mendapatkan batubara halus. Perkembangan teknolologi belakangan ini telah membantu meningkatkan perolehan materi batubara yang sangat baik.

2. Pengangkutan Batubara
Cara pengangkutan batubara ke tempat batubara tersebut akan digunakan tergantung pada jaraknya. Untuk jarak dekat, batubara umumnya diangkut dengan menggunakan ban berjalan atau truk. Untuk jarak yang lebih jauh di dalam pasar dalam negeri, batubara diangkut dengan menggunakan kereta api atau tongkang atau dengan alternatif lain dimana batubara dicampur dengan air untuk membentuk bubur batu dan diangkut melalui jaringan pipa. Kapal laut umumnya digunakan untuk pengakutan internasional dalam ukuran berkisar dari Handymax (40-60,000 DWT), Panamax (about 60-80,000 DWT) sampai kapal berukuran Capesize (sekitar 80,000+ DWT). Sekitar 700 juta ton (Jt) batubara diperdagangkan secara internasional pada tahun 2003 dan sekitar 90% dari jumlah tersebut diangkut melalui laut. Pengangkutan batubara dapat sangat mahal – dalam beberapa kasus, pengangkutan batubara mencapai lebih dari 70% dari biaya pengiriman batubara. Tindakan-tindakan pengamanan diambil di setiap tahapan pengangkutan dan penyimpan batubara untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan hidup.




BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari rangkuman diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa batubara adalah tumbuhan yang sudah mati lalu diolah dengan cara yang benar agar memperoleh batubara yang berkualitas dan batubara adalah salah satu kekayaan alam yang diperlukan bagi kehidupan manusia, karena jika tidak ada maka, tidak akan ada pembangkit listrik tenaga uap, industry semen, dan sebagainya. Jadi kita perlu menjaga,memanfaatkan, serta mengolah batubara dengan benar dan tepat. Karena sekarang banyak sekali manusia yang mengolah batubara dengan cara yang tidak tepat seperti, pertambangan liar batubara, dan lain-lain. Ada cara yang benar untuk pengolahan batubara yaitu, tahap pertama adalah kominusi atau memperkecil batubara ada dua tahap, yaitu tahap peremuk pertama dan tahap kedua. Tahap kedua sizing atau pengelompokan material (batubara) terbagi atas dua cara yaitu, screening dan classifying. Dan  tahapan terakhir adalah pencucian batubara. Pencucian batubara ada dua cara yaitu, secara fisik dan secara kimia, namun cara kimia masih jarang digunakan karena menurut sebagian orang cara fisik lebih mudah dibandingkan cara kimia. Ada beberapa jenis tumbuhan yang bisa dijadikan batubara.

B. SARAN
Berdasarkan pembahasan tersebut saya menyarankan :
1. Sebagai generasi muda, kita harus bisa memanfaatkan batubara dengan bijak.
2. Perlunya kesadaran untuk menggunakan batubara dengan benar agar tidak merusak lingkungan.
3. Dianjurkan agar kita untuk menjaga batubara sebagai salah satu kekayaan alam yang diperlukan untuk kehidupan kita.
4. Gunakan batubara sesuai dengan aturan yang ada agar tidak menimbulkan efek yang negatif bagi kehidupan manusia.






EmoticonEmoticon